Dampak Toxic Positivity: Mengapa Tidak Semua Harus Berpikir Positif
Pendahuluan
“Jangan sedih, tetap bersyukur.”
“Pikirkan yang positif saja.”
“Masih banyak yang hidupnya lebih susah.”
Kalimat-kalimat di atas sering terdengar seperti nasihat
yang baik. Namun, tanpa disadari, ucapan tersebut bisa menjadi bentuk toxic positivity. Di era media sosial,
budaya berpikir positif sering dipromosikan secara berlebihan, seolah-olah
emosi negatif adalah sesuatu yang salah dan harus segera disingkirkan.
Padahal, tidak semua kondisi bisa diselesaikan dengan
berpikir positif. Artikel ini akan membahas toxic positivity adalah apa, dampak
toxic positivity terhadap kesehatan mental, serta bagaimana cara menyikapi
emosi secara lebih sehat dan realistis.
Apa Itu Toxic Positivity?
Toxic positivity
adalah sikap memaksakan pandangan positif secara berlebihan dan menolak atau
mengabaikan emosi negatif, baik pada diri sendiri maupun orang lain.
Berpikir positif sebenarnya tidak salah. Masalah muncul
ketika:
- Emosi negatif dianggap lemah atau tidak pantas
- Kesedihan, marah, kecewa, atau takut ditekan dan diabaikan
- Seseorang dipaksa “bahagia” meskipun sedang terluka
Toxic positivity sering muncul dalam bentuk kalimat motivasi
yang tampak manis, tetapi justru membuat seseorang merasa tidak dipahami.
Contoh Toxic Positivity dalam Kehidupan Sehari-hari
Toxic positivity bisa muncul tanpa niat buruk. Beberapa
contoh yang sering terjadi:
“Jangan nangis, kamu harus kuat.”
“Pasti ada hikmahnya, jangan sedih.”
“Kamu harus selalu bersyukur.”
“Positive vibes only.”
Kalimat-kalimat ini terdengar positif, tetapi bisa membuat
seseorang merasa emosinya tidak valid.
Perbedaan Berpikir Positif dan Toxic Positivity
|
Berpikir Positif Sehat |
Toxic Positivity |
|
Mengakui emosi
negatif |
Menolak emosi
negatif |
|
Memberi ruang
untuk sedih |
Memaksa untuk bahagia |
|
Realistis dan
empatik |
Berlebihan dan menghakimi |
|
Menerima proses |
Menuntut hasil
instan |
Berpikir positif yang sehat membantu seseorang bangkit,
sedangkan toxic positivity justru bisa menekan kondisi mental.
Dampak Toxic Positivity terhadap Kesehatan Mental
Berikut beberapa dampak
toxic positivity yang sering tidak disadari:
1. Menekan Emosi Negatif
Ketika seseorang terus dipaksa berpikir positif, ia belajar
untuk menyembunyikan perasaan sedih,
marah, atau kecewa. Emosi yang ditekan tidak hilang, melainkan menumpuk
dan dapat muncul dalam bentuk stres berkepanjangan.
2. Meningkatkan Rasa Bersalah
Seseorang bisa merasa bersalah karena:
- Merasa sedih
- Tidak bisa “bahagia”
- Merasa lemah secara emosional
Padahal, emosi negatif adalah bagian alami dari kehidupan
manusia.
3. Merusak Proses Pemulihan Emosional
Kesedihan dan kekecewaan adalah bagian dari proses
penyembuhan. Toxic positivity menghambat proses ini karena seseorang tidak diberi ruang untuk merasakan dan
memproses emosinya.
4. Menurunkan Kualitas Hubungan Sosial
Ketika emosi seseorang sering diabaikan atau dibalas dengan kalimat positif berlebihan, ia bisa merasa:
- Tidak dipahami
- Tidak aman untuk berbagi
- Enggan terbuka di masa depan
Hubungan yang sehat membutuhkan empati, bukan sekadar
optimisme.
5. Memicu Burnout dan Kecemasan
Toxic positivity sering membuat seseorang terus memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memicu:
- Burnout emosional
- Kecemasan
- Kelelahan mental
Mengapa Toxic Positivity Banyak Terjadi?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan toxic positivity semakin umum:
- Budaya media sosial yang menampilkan kebahagiaan semu
- Tekanan sosial untuk selalu terlihat kuat
- Kurangnya literasi kesehatan mental
- Niat baik yang disampaikan dengan cara yang kurang tepat
Banyak orang tidak sadar bahwa mereka sedang melakukan toxic
positivity karena menganggapnya sebagai bentuk dukungan.
Cara Menyikapi Emosi Tanpa Toxic Positivity
Agar tetap sehat secara mental, berikut pendekatan yang
lebih seimbang:
1. Akui Semua Emosi
Sadari bahwa:
- Sedih itu wajar
- Marah itu manusiawi
- Kecewa itu normal
Mengakui emosi bukan berarti lemah, tetapi jujur pada diri
sendiri.
2. Gunakan Bahasa yang Lebih Empatik
Ganti kalimat toxic positivity dengan:
“Aku mengerti ini berat buat kamu.”
“Wajar kalau kamu merasa seperti ini.”
“Aku di sini kalau kamu mau cerita.”
Empati jauh lebih menyembuhkan daripada nasihat instan.
3. Berpikir Positif Secara Realistis
Berpikir positif maksudnya bukan menutup mata dari persoalan, namun:
- Menghadapi kenyataan
- Mencari solusi secara bertahap
- Memberi waktu untuk pulih
4. Izinkan Diri untuk Tidak Baik-Baik Saja
Kamu tidak harus selalu kuat. Memberi ruang untuk istirahat
emosional adalah bagian dari self-care yang sehat.
Toxic Positivity dalam Pengembangan Diri
Ironisnya, toxic positivity sering muncul dalam dunia
motivasi dan pengembangan diri. Kutipan inspiratif memang bisa membantu, tetapi
tidak semua masalah selesai dengan
afirmasi positif.
Pengembangan diri yang sehat:
- Mengakui keterbatasan
- Menghargai proses
- Tidak menuntut kesempurnaan emosional
Kesimpulan
Toxic positivity
adalah sikap memaksakan kebahagiaan dan menolak emosi negatif, yang justru
dapat merusak kesehatan mental. Dampak toxic positivity meliputi penekanan
emosi, rasa bersalah, hubungan yang tidak sehat, hingga burnout.
Berpikir positif tetap penting, tetapi harus dilakukan
secara realistis dan penuh empati.
Hidup bukan hanya tentang bahagia, tetapi juga tentang menerima seluruh
spektrum emosi sebagai bagian dari proses menjadi manusia.
Tidak apa-apa untuk tidak selalu baik-baik saja. Justru dari
kejujuran emosi itulah, kesehatan mental bisa tumbuh dengan lebih kuat dan
sehat.
Rekomendasi Artikel: Skill Penting Dunia Kerja