Cara Mengatasi Overthinking agar Hidup Lebih Tenang dan Fokus
Pernah merasa pikiran terus berputar tanpa henti? Memikirkan
hal yang belum tentu terjadi? Mengulang percakapan di kepala berkali-kali? Jika
iya, kamu mungkin sedang mengalami overthinking.
Overthinking adalah kebiasaan memikirkan sesuatu secara
berlebihan hingga menimbulkan kecemasan, stres, bahkan sulit tidur. Jika
dibiarkan, kondisi ini bisa mengganggu fokus, produktivitas, dan kesehatan
mental.
Kabar baiknya, ada beberapa cara mengatasi overthinking yang bisa kamu lakukan mulai hari ini
agar hidup terasa lebih tenang dan fokus.
Apa Itu Overthinking?
Overthinking adalah kondisi ketika seseorang terlalu lama
memikirkan suatu masalah, kemungkinan buruk, atau keputusan kecil hingga
menjadi beban pikiran.
Biasanya ditandai dengan:
- Sulit tidur karena pikiran aktif
- Takut mengambil keputusan
- Terlalu memikirkan opini orang lain
- Cemas berlebihan terhadap masa depan
Memahami penyebabnya adalah langkah pertama sebelum mencari
solusi.
Penyebab Overthinking yang Perlu Kamu Ketahui
Sebelum membahas cara berhenti overthinking, penting untuk
mengetahui penyebabnya.
Beberapa faktor umum antara lain:
1. Perfeksionisme
Ingin semuanya sempurna sehingga takut melakukan kesalahan.
2. Takut Gagal
Khawatir akan hasil buruk yang belum tentu terjadi.
3. Trauma atau Pengalaman Buruk
Pengalaman masa lalu bisa membuat seseorang lebih waspada
secara berlebihan.
4. Kurang Percaya Diri
Meragukan kemampuan diri sendiri dalam mengambil keputusan.
Mengetahui akar masalah akan membantu kamu lebih mudah
mengontrol pikiran negatif.
7 Cara Mengatasi Overthinking yang Efektif
Berikut langkah-langkah praktis yang bisa langsung kamu
terapkan.
1. Sadari Pola Pikiranmu
Langkah pertama adalah menyadari bahwa kamu sedang
overthinking.
Tanyakan pada diri sendiri:
- Apakah ini fakta atau hanya asumsi?
- Apakah pikiran ini membantu atau justru merugikan?
Kesadaran adalah kunci awal untuk menghentikan pikiran
berlebihan.
2. Batasi Waktu untuk Memikirkan Masalah
Alih-alih memikirkan masalah sepanjang hari, coba batasi
waktu khusus.
Misalnya:
“Selama 10 menit saya akan memikirkan solusi. Setelah itu
saya berhenti.”
Teknik ini membantu otak tidak terus-menerus terjebak dalam
lingkaran pikiran yang sama.
3. Fokus pada Hal yang Bisa Dikontrol
Banyak overthinking terjadi karena kita memikirkan hal di
luar kendali.
Daripada memikirkan:
“Bagaimana kalau nanti gagal?”
Ubah menjadi:
“Apa yang bisa saya lakukan sekarang agar hasilnya lebih
baik?”
Ini adalah teknik mengatasi pikiran berlebihan yang sangat
efektif.
4. Alihkan Perhatian dengan Aktivitas Positif
Saat pikiran mulai tidak terkendali, segera alihkan energi
ke aktivitas seperti:
- Olahraga ringan
- Membaca buku
- Menulis jurnal
- Mendengarkan musik
- Berbicara dengan teman
Aktivitas fisik dan sosial terbukti membantu menurunkan
kecemasan.
5. Latih Mindfulness dan Pernapasan
Mindfulness membantu kamu kembali fokus ke momen saat ini.
Coba teknik sederhana:
- Tarik napas dalam selama 4 detik
- Tahan 4 detik
- Hembuskan perlahan 4 detik
- Lakukan selama 3–5 menit
Teknik ini membantu sistem saraf menjadi lebih tenang.
6. Berhenti Mencari Validasi Berlebihan
Terlalu memikirkan pendapat orang lain sering menjadi
penyebab overthinking.
Ingat:
- Tidak semua orang harus menyukai keputusanmu.
- Tidak semua kesalahan berarti kegagalan besar.
Belajarlah menerima bahwa kamu tidak bisa mengontrol
persepsi semua orang.
7. Ubah Pola Pikir Negatif
Saat pikiran negatif muncul, coba tantang dengan pertanyaan
rasional:
- Apa bukti nyata bahwa ini akan terjadi?
- Apakah saya pernah berhasil sebelumnya?
Mengontrol pikiran negatif membutuhkan latihan, tapi
hasilnya sangat signifikan.
Dampak Overthinking Jika Dibiarkan
Jika tidak segera diatasi, overthinking dapat menyebabkan:
- Stres berkepanjangan
- Gangguan tidur
- Penurunan produktivitas
- Menurunnya rasa percaya diri
- Gangguan kecemasan
Karena itu, penting untuk segera mencari cara berhenti
overthinking sebelum menjadi kebiasaan permanen.
Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?
Jika overthinking sudah menyebabkan:
- Serangan panik
- Insomnia berat
- Gangguan aktivitas sehari-hari
Tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog atau
konselor.
Meminta bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk
kepedulian terhadap diri sendiri.
Kesimpulan
Overthinking memang sering terjadi, terutama di era penuh
tekanan seperti sekarang. Namun, kamu tidak harus terus terjebak di dalamnya.
Dengan menerapkan beberapa cara mengatasi overthinking seperti membatasi waktu berpikir, fokus
pada hal yang bisa dikontrol, dan melatih mindfulness, kamu bisa mulai
merasakan hidup yang lebih tenang dan fokus.
Ingat, pikiran adalah alat, bukan musuh.
Belajarlah mengendalikannya, bukan dikuasai olehnya.
Mulai hari ini, ambil satu langkah kecil untuk menghentikan
overthinking.
📌 Baca Juga: Tips Menulis CV yang Menarik dan
Profesional
FAQ Seputar Overthinking
1. Apa itu overthinking?
Overthinking adalah kebiasaan memikirkan sesuatu secara
berlebihan hingga menimbulkan kecemasan, stres, dan sulit fokus. Biasanya
ditandai dengan pikiran yang terus berulang tanpa henti.
2. Bagaimana cara mengatasi overthinking dengan cepat?
Cara mengatasi overthinking dengan cepat adalah dengan
teknik pernapasan, mindfulness, membatasi waktu berpikir, serta mengalihkan
perhatian ke aktivitas positif seperti olahraga atau menulis jurnal.
3. Apa penyebab seseorang sering overthinking?
Penyebab overthinking bisa karena perfeksionisme, trauma
masa lalu, kurang percaya diri, atau rasa takut gagal yang berlebihan.
4. Apakah overthinking berbahaya bagi kesehatan mental?
Jika dibiarkan, overthinking dapat menyebabkan stres kronis,
gangguan tidur, penurunan produktivitas, hingga gangguan kecemasan.
5. Bagaimana cara berhenti overthinking sebelum tidur?
Cara berhenti overthinking sebelum tidur adalah dengan
mengurangi penggunaan gadget, melakukan teknik pernapasan, menulis pikiran di
jurnal, serta menciptakan suasana kamar yang lebih tenang.
6. Kapan harus mencari bantuan profesional untuk overthinking?
Jika overthinking sudah menyebabkan serangan panik, insomnia
berat, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya berkonsultasi dengan
psikolog atau konselor.